Tanggal 07 Juli 2011, saya mendapat kabar dari teman di Surabaya bahwa dia akan ke Jakarta untuk mengunjungi Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair 2011) yang sedang berlangsung saat itu. Wah, kabar yang sangat menarik dan dia adalah teman semasa duduk di bangku SMA dulu di Surabaya. Waktu dan tempat bertemu sudah kami sepakati, kami akan bertemu setelah dia berkunjung ke Pekan Raya Jakarta dengan menggunakan taksi. Sudah lama sekali kami tidak saling berjumpa.
Tanggal 08 Juli 2011, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB dan saya sudah menunggu selama kurang lebih 30 menit di SPBU yang terletak di seberang Gedung Menara Jamsostek, Gatot Subroto. Namun, tak lama setelah itu kami pun akhirnya bertemu, saling bertegur sapa, berjabatan tangan dengan erat dan menanyakan kabar masing-masing, karena sudah lama sekali kami tidak saling berjumpa.
Tanpa perlu berlama-lama di tempat itu, saya segera membonceng dia dan menuju ke arah Tebet, membelah kemacetan di ibu kota yang cukup memprihatinkan dan semakin parah tiap tahunnya. Di atas motor, kami berdua pun tak henti-hentinya saling bertukar cerita satu sama lain — karena memang sudah lama sekali kami tidak saling berjumpa.
Tujuan kami ke Tebet adalah untuk berwisata kuliner ke sebuah warung kaki lima alias pinggir jalan yang menurut kabar beritanya menjual makanan khas ala Jawa Timur-an, seperti: tahu campur, tahu tek, tahu telor, rujak cingur dan soto lamongan. Letaknya tidak jauh dari restoran cepat saji McDonald’s di Jalan Dr. Saharjo. Nama tempatnya adalah “Warung Ojo Lali” dan buka setiap hari jam 16.00-00.00 WIB. Entahlah, kenapa dinamakan seperti itu. Mungkin pemilik warung ingin mengingatkan kepada pembeli agar ‘ojo lali’ mampir (lagi) atau ‘ojo lali’ mencoba makanan atau ‘ojo lali’ nambah (lagi) atau mungkin bahkan ‘ojo lali’ bayar — hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Setibanya di tempat, kami sudah ditunggu oleh satu lagi teman kami yang menetap di Jakarta beberapa tahun yang lalu, juga merupakan teman satu kelas kami semasa duduk di bangku SMA dulu di Surabaya. Suasana warung cukup nyaman, tidak terlalu penuh sesak dengan pembeli dan pelayanan yang ramah. Tidak ada rasa canggung sedikit pun diantara kita bertiga meskipun sudah sekian tahun lamanya tak bersua. Obrolan ringan disertai dengan logat dan guyonan khas suroboyoan membuat kami nyaman satu sama lain. Tapi tentu saja kami tidak ‘lali’ untuk memesan tahu campur, yang katanya menu andalan dari warung ini. Rasa tahu campurnya enak sekali, cocok dengan lidah saya, bahkan saya memesan lagi sepiring tahu tek.. dan rasanya (masih) enak!
Obrolan ringan disertai dengan logat dan guyonan khas suroboyoan yang membuat kami nyaman satu sama lain tetap berlanjut, sampai tanpa terasa sudah lebih dari dua jam kami bertiga berkumpul kembali dan sekarang sudah waktunya berpamitan untuk berpisah. Saya pun mencoba untuk menjadi teman yang baik dan menawarkan jasa saya lagi untuk memberi tumpangan kepada teman saya yang pertama — karena akan lama sekali kami dapat saling berjumpa.
Dalam hati saya berjanji, lain kali akan mencoba rujak cingur-nya!